DETIK-TIMES.com | YOGYAKARTA – Di tengah masih tingginya angka anemia pada ibu hamil (bumil) dan stunting pada anak usia di bawah lima tahun (balita) di Indonesia, sebuah inovasi pangan lokal hadir membawa harapan.
Labu susu varietas “Citra Labu Gama (Laga)” kini menjadi alternatif penanggulangan dua masalah kesehatan serius tersebut.
Tim peneliti Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta (Unjaya) yang diketuai Nurpuji Mumpuni, S.Si., M.Kes., berkolaborasi dengan peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan bermitra dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta berhasil meraih pendanaan Matching Fund/Dana Padanan Kerja Sama Dunia Usaha dan Kreasi Reka (Kedai Reka) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi (Ditjen Diktiristek), Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) 2025.
Inovasi berjudul “Pemantapan Ketahanan Pangan Untuk Menurunkan Kejadian Anemia dan Stunting di Kota Yogyakarta Dengan Budidaya Labu Susu (Cucurbita Moschata ‘Butternut’) Citra Laga” ini melibatkan tim multidisiplin dari berbagai institusi pendidikan tinggi terkemuka.
Tim peneliti yang terdiri dari enam ahli dari berbagai bidang keilmuan ini mendapatkan dukungan penuh dari Bappeda Kota Yogyakarta. Dari Fakultas Kesehatan (FKes) UNJAYA, tim peneliti melibatkan Nurpuji Mumpuni, S.Si., M.Kes. dari Program Studi Teknologi Bank Darah (TBD), Yuli Astuti, A.P.TTD., S.ST., M.K.M. juga dari Prodi TBD dan Dewi Zolekhah, S.SiT., M.Keb. dari Prodi Kebidanan. Sementara dari UGM, tiga Guru Besar terlibat aktif: Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. dari Fakultas Biologi, Prof. Dr. Supriyadi, M.Sc. dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dan Prof. Dr. Lily Arsanti Lestari, S.T.P., M.P. dari Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK).
Ada banyak rangkaian kegiatan dalam inovasi ini. Salah satunya adalah “Sosialisasi pengolahan labu susu Citra Laga sebagai upaya pencegahan anemia dan stunting”. Kegiatan berlangsung di Aula Kantor Kelurahan Bener, Jalan Bener No. 48, Bener, Tegalrejo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (20/8/2025).
Acara yang berjalan lancar ini dihadiri 50 peserta yang terdiri dari ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Hadir pula Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kelurahan Bener Kemantren Tegalrejo Yogyakarta, Tim
Jurnal Jaringan Kerjasama Penelitian (Jarlit) Bappeda Kota Yogyakarta dan dari Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Yogyakarta.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui edukasi gizi berbasis pangan lokal, dengan melatih ibu-ibu PKK dan kader Posyandu dalam mengolah labu susu ‘Citra Laga’ menjadi pangan bergizi untuk pencegahan anemia dan stunting,” ujar Nurpuji Mumpuni.
Nurpuji Mumpuni menekankan bahwa angka anemia pada bumil dan stunting pada balita di Indonesia masih tinggi dan menjadi perhatian serius pemerintah.
Indonesia menempati urutan tertinggi kasus stunting di Asia Tenggara. Salah satu penyebab utamanya adalah kekurangan gizi kronis yang berkepanjangan.
“Labu susu merupakan sumber pangan lokal yang kaya beta karoten, asam folat dan zat besi yang merupakan nutrien penting dalam mencegah anemia dan mendukung pertumbuhan anak. Sayangnya, pemanfaatan labu susu di masyarakat masih terbatas,” ungkapnya.
Materi pelatihan yang diberikan mencakup dasar-dasar pemahaman tentang anemia dan stunting, nilai gizi labu susu serta teknik pengolahan sederhana yang sesuai dengan kebutuhan bumil, bayi dan balita.
Pelatihan pengolahan pangan ini menjadi sarana edukasi dan transfer pengetahuan untuk meningkatkan kesadaran serta keterampilan masyarakat dalam menyusun menu sehat berbasis labu susu.
Lebih lanjut, Nurpuji Mumpuni menuturkan, kegiatan implementasi inovasi ini merupakan salah satu dari banyak program yang akan dilaksanakan dalam upaya menurunkan angka anemia dan stunting di Kota Yogyakarta.
Dengan dukungan berbagai pihak dan antusiasme masyarakat yang tinggi, program ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi peningkatan status gizi masyarakat, khususnya bumil dan balita.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah dan masyarakat ini menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi di daerah lain untuk mengatasi permasalahan gizi secara berkelanjutan.
Kegiatan ini juga diperkuat oleh sepuluh mahasiswa dari program studi Teknologi Bank Darah (TBD) dan Kebidanan sebagai bagian dari kurikulum Kampus Berdampak yang terlibat aktif membantu kegiatan sosialisasi ini.
“Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa melakukan pembelajaran di luar kampus dan menambah pengalaman terjun di masyarakat sebagai bagian dari kegiatan kurikulum Kampus Berdampak,” tambah Nurpuji Mumpuni.
Mahasiswa yang terlibat aktif membantu kegiatan sosialisasi ini antara lain lima mahasiswa dari prodi TBD yaitu Rahmatia Azizatunnisa, Salma Alifah Fauziyyah, Ayu Nanda Putri, Denilcia Fatima Lemos Da Rocha, dan Alya Nova Azzahro. Sementara dari prodi Kebidanan yang berpartisipasi adalah Adinda Putri Ariyani, Novera, Zulfah Tamimi, Yulyandra Carmen dan Daniela Dewi Puspitaningrum.
Mewakili Lurah Bener Sarosa, S.P., Staf Kelurahan Bener Sukantak dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan sosialisasi pemanfaatan labu susu ini sangat bermanfaat bagi warga, terutama untuk mencegah stunting.
“Setelah kegiatan ini, warga diharapkan bisa memaksimalkan lahan yang ada di kelurahan untuk membudidayakan labu susu. Kolaborasi dengan Unjaya ini diharapkan juga bisa tetap berlanjut,” harap Sukantak.
Labu susu Citra Laga merupakan varietas baru hasil inovasi Prof. Budi Setiadi Daryono bersama peneliti Fakultas Biologi UGM lainnya, yakni Prof. Purnomo, M.S. Varietas ini potensial dibudidayakan di lahan marginal maupun lahan kritis karst.
Pengembangan labu ini telah dimulai sejak 2017 dan telah dibudidayakan oleh kelompok tani binaan di Prambanan, Sleman, DIY.
Labu susu Citra Laga berasal dari persilangan antara labu susu dari Belanda dan labu susu dari Jepang yang dikenal dengan nama Kabocha, kemudian dilakukan seleksi hingga menghasilkan galur kultivar Citra Laga.
Varietas ini memiliki masa panen yang relatif lebih cepat dibandingkan labu biasa, berkisar antara 75-85 hari setelah tanam.
Dalam satu pohon labu dapat menghasilkan 2 hingga 6 buah dengan berat rata-rata 1-3 kg per buah. Buah berwarna kuning, kuning kecoklatan, dan oranye ini dapat bertahan hingga 6-12 bulan.
Budidaya labu susu Citra Laga sangat potensial dilakukan karena memiliki kandungan nutrisi tinggi sehingga berpotensi besar dijadikan makanan alternatif.
Labu susu umumnya digunakan sebagai bahan baku tepung untuk bubur bayi/makanan pendamping Air Susu Ibu (ASI), kue, roti dan bubur yang dikonsumsi saat proses penyembuhan dan pemeliharaan kesehatan lansia.
Labu susu Citra Laga dapat ditanam di dataran rendah hingga sedang. Varietas ini juga bisa dibudidayakan pada lahan-lahan marginal seperti tegalan dan lahan berkapur, memberikan fleksibilitas bagi petani dalam memilih lokasi budidaya. ***












